Sabtu, 19 Maret 2016

Memori Gunung Lawang

Tak terasa sudah setahun yang lalu aku mengunjungi tempat ini. Satu desa yang terletak di daerah terpencil. Berawal dari rasa ingin tahu tempat tugas suami yang baru , akhirnya berañgkat menuju lokasi yang telah di sebutkan dalam surat tugas. Perjalan kita lakukan empat orang. Berangkat selepas sholat dhuhur. Selama perjalanan kita tidak mempunyai gambaran seperti apa tempat tugas yang akan kami tuju. Setelah satu jam perjalanan, sampailah kita di desa yang dimaksud. Yaa.....ds.Pragelan kecamatan Gondang, kabupaten  Bojonegoro. Kami bertanya kepada penduduk yg ada tepatnya letak SDN Pragelan 3, kecamatan Gondang. Dari hasil keterangan dari warga, sekolah tersebut berada di tengah hutan dengan perjalanan sekitar 5 kilo. Dan yang membuat kami heran , untuk mencapai tempat tersebut harus rela jalan kaki di musim pengujan seperti sekarang ini. Apa boleh buat...ketika bertemu warga desa itu posisi kami sudah memasuki pintu hutan dengan jalan yang masih bisa kita lalui dengan kendaraan sepeda motor. Tapi setelah kita telusuri, ternyata benar. Semakin kita masuk ke salam hutan semakin sulit medan yang harus kita lalui. Akhirnya kami memutuskan untuk  jalan kaki menuju lokasi dan sepeda kita letakkan di hutan tanpa ada orang yang menunggu. Perjalanan kita mulai dengan jalan kaki drngan suasana yang cukup sepi. Maklum saja kita sampai di hutan tersebut sekitar jam 3 sore. Sambil terus berjalan tak henti hentinya kita berpikir betulkah jalan yang di lalui. Semakin jauh kami melangkah semakin sepi dan tak ada tanda- tanda kehidupan . Hingga kami bertemu dengan seorang yamg baru saja mencari rumput. Setelah kami tanyakan ternyata benar. Jalam yang kita lalui tersebut memang jalan menuju lokasi Sekolah temoat tugas suami yang baru. Peluh dan keringat mengucur di tubuh. Rasa lelah perjalanan sekitar 3 kilo dengan jalan yang naik turun tanpa ada tanda- tanda jalan manusia membuat kami tenggelam dalam pikiran masing- masing. Semakin jauh melangkah kami harus melalui sungai dengan air yang mengalir dan tidak ada jembatan yang harus kita lewati. Akhirnya, kami turun melewati sungai tersebut. Pada saat itu kedalaman air sedalam lutut orang dewasa. Dengan susah payah akhirnya berhasil melewati sungai dan naik ke daratan lembali. Setelah melepas lelah sejenak perjakanan kita lanjutkan. Semakin masuk ke dalam hutan semakin sepi dan mencekam suasananya. Seperti orang yang tersesat di tengah hutan yang tidak bisa mendapatkan bantuan dari dunia luar.  Semakin ke dalam hutan Jalan semakin licin dan naik turun. Suasana sepi hanya terkadang terdengar kicau burung yg seolah tak berani bersuara. Hembusan angin membuat peluh dan keringat sedikit terobati. Rasa haus yang melanda membuat kerongkongan terasa kering. Namun perjalanan masih terus kita lakukan. Hingga akhirnya kita sampai di tempat yang di maksud.
Dalam hati saya hanya betkata, Yaa Allah, ternyata masih ada daerahku yang seperti ini. Ternyata gemerlap lampu kota sangat berbanding terbalik keadaan yang saya lihat sekarang. Disini hanya ada beberapa warga..dari penduduk yang tinggal di sekitar sekolah tersebut, menyebutkan bahwa di lingkungan tersebut ada sekitar 2Rt
Siswa yg ada berjumlah 25 murid.
Guru yang mengajar juga berasal dari luar,  jadi para guru harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan setiap akan berangkat menuju sekolah tersebut. Tak banyak  kata yang aku ucap. Mungkin karena lelah dan syok dengan keadaan yang ada di depan mataku saat ini. Hanya dalam hati berucap, apa yang bisa dilakukan untuk daerah ini?? Daerah yang terpencil dan terisolir? Sambil melepas lelaj karena perjalanan, kami mengelilingi bangunan sekolah tersebut. Daan setelah di rasa cukup, kami kembali pulang dengan cara yang sama. Lelah dan peluh kembali kami rasakan saat menempuh perjalanan menuju tempat sepeda kami tinggalkan. Dan akhirnya sampailah kita di tempat sepeda kita tinggalkan. Istirahat sejenak sambil mengatur nafas yang ngos ngosan dan menghindari hujan yang alan turun yang bisa dilihat dari langit yang semakin gelap. Akhirnya kita melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Kenangan ini setahun yang lalu alu jalani. Berjalan di kaki gunung lawang demi melihat tempat tugas suami yang baru. Dari tempat inilah banyak sekali pengalaman hidup yang sangat berharga yang membuat kami lebih mengerti akan artinya bersyukur. Kami selalu yakin, dibalik Rencana yang Allah berikan, pasti ada hikmah yang tak terhingga..