Home » » Karakteristik Anak Tunadaksa

Karakteristik Anak Tunadaksa

Posted by Cendikia on Tuesday, July 3, 2018




Salah satu kasus utama hendaya fisik motorik pada anak-anak adalah kerusakan atau kemunduran sistem saraf pusat, yaitu pada otak atau saraf tulang belakang. Seorang anak dengan kerusakan otak sering kali menunjukkan adanya berbagai gejala yang bersifat perilaku. Misalnya, masalah-masalah belajar, masalah yang bersifat persepsi, kelangkaan koordinasi, suka membuat keonaran, gangguan emosional, kelainan berbicara dan berbahasa. Gejala-gejala lain yang menunjukkan adanya cedera otak atau malfungsi yaitu adanya hendaya fungsi gerak, kelumpuhan, dan beberapa tipe dari serangan secara tiba-tiba pada jantung sehingga menyebabkan kejang-kejang atau gangguan kontraksi sekelompok otot (seizure) (Hallahan & Kaufman, dalam Bandi Delphie, 2006: 125).
Hendaya keadaan fisik motorik yang paling menonjol dan banyak dilakukan layanan pendidikan antara lain cerebral palsy (CP), spina bifida (SB), dan developmental coordination disorder (DCD). Berikut adalah macam hendaya fisik motorik menurut Bandi Delphie (2006: 126).
1)      Cerebral palsy. Merupakan kelainan gerak dan kelainan postur tubuh disebabkan oleh adanya cedera yang permanen pada otak, saat ini masih dalam perkembangan (Bax, 1964). Kelainan pada aspek gerak sering kali diikuti dengan kerusakan pada penglihatan, pendengaran, berbicara dan intelegensi. Hal ini ditandai pula dengan kelangkaan kontrol terhadap lidah dan bibir, kelainan persepsi visual, hilangnya rasa pada daya taktil, kelainan berkaitan dengan pengenalan ruang atau tempat, dan seizure. Kondisi kelainan cerebral palsy bisa terjadi saat dalam kandungan, saat dilahirkan, dan saat setelah dilahirkan atau kombinasi dari ketiga faktor tersebut.
2)      Epilepsy. Merupakan gangguan serangan yang hebat terhadap fungsi otak yang terjadi secara tiba-tiba, spontan dan mempunyai tendensi untuk terjadi kembali. Epilepsy terjadi bersamaan dengan ketidakmampuan lain seperti cerebral palsy dan hydrochepalus. Kelainan epilepsy merupakan perwujudan hilangnya konsentrasi atau bahkan ketidaksadaran diri, biasanya diikuti pula dengan gerakan-gerakan yang tidak diinginkan oleh tubuh. Rangsangan itu muncul dimulai pada bagian khusus dari otak sehingga menimbulkan kejang-kejang pada bagian tertentu tanpa kehilangan kesadaran.
3)      Hydrocephalus. Terjadi ketika terlalu banyak cairan cerebrospinal dalam rongga otak. Dengan demikian otak yang lembut, dan rongga yang ada pada otak mendapatkan tekanan dari cairan yang mengisi rongga otak. Dampak dari tekanan menjadikan lapisan luar otak menjadi tipis dan mengerut, sering kali terjadi cedera yang permanen.
4)      Spina bifida. Tulang belakang yang terbagi atau robek. Adanya kerusakan dan gangguan pada saraf di bagian tulang belakang, berarti pesan-pesan antara otak, batang tubuh, dan anggota badan terjadi hambatan yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan. Pesan-pesan dari tubuh ke otak menunjukkan adanya rintangan pada perasan sentuhan, rasa sakit, dan posisi. Robek pada tulang belakang dapat terjadi di beberapa tempat, namun sering kali terjadi pada bagian bawah tubuh. Hal semacam ini merupakan risiko yang tinggi pada situasi kandungan, karena kemungkinan anak yang dilahirkan mempunyai kelainan spina bifida.

Sumber
Bandi Delphie. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi. Bandung : PT. Refika Aditama. 2006.

Thanks for reading & sharing Cendikia

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Selamat Datang di Blog Cendikia,

1. Silahkan isi komentar karena itu sangat berarti dalam perkembangan blog ini.
2. Jangan sungkan untuk bertanya di kolom komentar.
3. Kalau Anda mencari artikel atau data terperinci silahkan buka menu sitemap di kanan atas.
4. Jadilah Followers/pengikut blog ini untuk mendapatkan pemberitahuan secara langsung lewat email.


Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers