Home » » Karakteristik Tunarungu Wicara

Karakteristik Tunarungu Wicara

Posted by Cendikia on Tuesday, July 3, 2018




Pengertian hendaya pendengaran adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebagian atau seluruhnya, diakibatkan tidak berfungsinya sebagian atau seluruh indera pendengaran. Bentuk mimik peserta didik dengan hendaya pendengaran dan bicara (tunarungu wicara) berbeda dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang lain. Hal ini karena mereka tidak pernah mendengar atau mempergunakan pancaindra telinga dan mulut. Oleh sebab itu, mereka tidak terlalu paham dengan apa yang dimaksudkan dan dikatakan oleh orang lain. (Bandi Delphie, 2006: 102).
Alat audiometer merupakan alat untuk mengukur derajat kehilangan pendengaran dengan ukuran decibel (dB). Derajat kemampuan berdasarkan ukuran instrumen audiometer menyebabkan klasifikasi anak dengan hendaya pendengaran sebagai berikut.
1)      0 – 26 dB, masih mempunyai pendengaran normal.
2)      27 – 40 dB, mempunyai kesulitan mendengar tingkat ringan, masih mampu mendengar bunyi-bunyian yang jauh. Individu tersebut membutuhkan tetapi bicara.
3)      41 – 55 dB, termasuk tingkat menengah, dapat mengerti bahasa percakapan. Individu tersebut membutuhkan alat bantu dengar.
4)      56 – 70 dB, termasuk tingkat menengah berat. Kurang mampu mendengar dari jarak dekat, memerlukan alat bantu dengar dan membutuhkan latihan berbicara secara khsusus.
5)      71 – 90 dB, termasuk tingkat berat. Individu tersebut termasuk orang yang mengalami ketulian, hanya mampu mendengarkan suara keras yang berjarak kurang lebih satu meter. Kesulitan membedakan suara yang berhubungan dengan bunyi secara tetap.
6)      91 – dan seterusnya, termasuk individu yang mengalami ketulian sangat berat. Tidak dapat mendengar suara. Sangat membutuhkan bantuan khusus secara intensif terutama dalam keterampilan percakapan/berkomunikasi.
7)      Perilaku yang muncul terhadap peserta didik dengan hendaya pendengaran di sekolah secara dominan berkaitan dengan hambatan dalam perkembangan bahasa dan komunikasi. (Gregory, s. Et al. dalam Bandi Delphie, 2006: 102).
Ciri-ciri umum hambatan perkembangan bahasa dan komunikasi antara lain sebagai berikut.
1)      Kurang memperhatikan saat guru memberikan pelajaran di kelas.
2)      Selalu memiringkan kepalanya, sebagai upaya untuk berganti posisi telinga terhadap sumber bunyi, sering kali ia meminta pengulangan penjelasan guru saat di kelas.
3)      Mempunyai kesulitan untuk mengikuti petunjuk secara lisan.
4)      Keengganan untuk berpartisipasi secara oral, mereka mendapatkan kesulitan untuk berpartisipasi secara oral dan dimungkinkan karena hambatan pendengarannya.
5)      Adanya ketergantungan terhadap petunjuk atau instruksi saat di kelas.
6)      Mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa dan bicara.
7)      Perkembangan intelektual peserta didik tunarungu wicara terganggu.
8)      Mempunyai kemampuan akademik yang rendah, khususnya dalam membaca. (Hallahan & Kauffman, 1991; Gearheart & Weishan, 1976; Kirk & Gallagher, 1989, dalam Bandi Delphie, 2006: 103).
Mereka yang termasuk ke dalam hendaya pendengaran terdiri atas dua kategori, yaitu mereka yang tuli sejak dilahirkan disebut dengan congenitally deaf, dan mereka yang tuli setelah dilahirkan disebut dengan adventitiously deaf. Sedangkan klasifikasi berdasarkan atas ambang batas kemampuan mendengar terdiri atas ringan (26-54 dB), sedang (55-69 dB), berat (70-89 dB), dan sangat berat (90 dB ke atas). (Bandi Delphie, 2006: 104).
Beberapa hasil penelitian (Ittyerah & Sharman, 1997; Wiegersma & Van Der Velde, 1983, dalam Bandi Delphie, 2006: 105), telah menemukan suatu kenyataan bahwa anak-anak dengan hendaya pendengaran (deaf children) mempunyai kesulitan pada keseimbangan dan koordinasi gerak tubuh (balance and general coordination). Contohnya, hasil penelitian pada anak usia 6-20 tahun dengan hendaya pendengaran mengalami kemunduran (less competent) dalam hal sebagai berikut:
1)      Koordinasi dinamika gerak (dynamic coordination) antara lain pada gerak: berjalan mundur dan maju sepanjang titian yang sempit, melompat, berjingkat ke atas (jumping & skipping), dan melompati rintangan tali yang direntangkan.
2)      Kemampuan koordinasi gerak visual, seperti memasukan tali sepatu ke dalam lobang yang ada pada papan berlobang khusus,
3)      Dalam melakukan gerakan berpindah (movement) lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak yang mampu mendengar. Hal ini disebabkan perkembangan persepsinya kurang.

Sumber
Bandi Delphie. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi. Bandung : PT. Refika Aditama. 2006.


Thanks for reading & sharing Cendikia

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Selamat Datang di Blog Cendikia,

1. Silahkan isi komentar karena itu sangat berarti dalam perkembangan blog ini.
2. Jangan sungkan untuk bertanya di kolom komentar.
3. Kalau Anda mencari artikel atau data terperinci silahkan buka menu sitemap di kanan atas.
4. Jadilah Followers/pengikut blog ini untuk mendapatkan pemberitahuan secara langsung lewat email.


Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers