Home » , » Pengertian Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Pengertian Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Posted by Cendikia on Tuesday, July 3, 2018



Pengertian kurikulum pada mulanya digunakan dalam bidang olahraga. Pada zaman Yunani Kuno. Curriculum dalam bahasa Yunani berasal dari kata curir, yang berarti pelari; dan curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Mengambil makna yang terkandung dari rumusan di atas, menurut Oemar Hamalik (1978), kurikulum dalam pendidikan dapat diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah. Pandangan lain tentang kurikulum menurut Hilda Taba (1962), yakni program belajar peserta didik atau plan for learning. Kurikulum sebagai program belajar peserta didik, disusun secara sistematis dan logis, yang diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan jauh sebelumnya. (Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 43).
Berikut adalah beberapa rumusan pengertian kurikulum menurut Saylor, Alexander dan Lewis (dalam Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 44), yaitu:
1)      Kurikulum sebagai rencana tentang mata  pelajaran atau bahan-bahan pelajaran.
2)      Kurikulum sebagai rencana tentang pengalaman belajar.
3)      Kurikulum sebagai rencana tentang tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
4)      Kurikulum sebagai rencana tentang kesempatan belajar.
Kurikulum dapat dilihat dalam dua lingkup, yaitu secara makro dan mikro. Pertama, kurikulum makro adalah kurikulum yang menyeluruh meliputi semua komponen atau meliputi seluruh wilayah atau seluruh peserta didik yang pada jenjang pendidikan tertentu, disusun oleh tim atau komisi khusus yang terdiri dari para ahli. Pengembangan meliputi tahap perancangan berkenaan dengan seluruh kegiatan menghasilkan dokumen kurikulum, pelaksanaan kurikulum meliputi kegiatan menerapkan semua rancangan yang tercantum dalam kurikulum tertulis, evaluasi kurikulum merupakan kegiatan menerapkan semua rancangan yang tercantum dalam kurikulum tertulis. Kedua, kurikulum mikro adalah merupakan penjabaran atau rincian kurikulum makro, atau rancangan bagi pelaksanaan pengajaran di kelas, tidak mempunyai peranan dalam perancangan dan evaluasi akan tetapi menyusun kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, satu catur wulan, satu minggu atau satu hari saja. (Nana Syaodih Sukmadinata, 1999, dalam Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 45).
Pendidikan Islam mengartikan kurikulum sebagai manhaj, menurut Umar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany (1975, dalam Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 46), manhaj ialah jalan terang yang dilalui oleh para pendidik atau guru dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengalaman, keterampilan dan sikap mereka. Menurut Al-Syaibany (1975), kurikulum pendidikan Islam seharusnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan Akhlâk. Agama dan Akhlâk tersebut harus diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadîts serta contoh-contoh dari tokoh terdahulu yang saleh.
2)      Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi peserta didik, yaitu aspek jasmani, akal dan rohani. Untuk pengembangan menyeluruh ini kurikulum harus berisi mata pelajaran yang banyak, sesuai dengan tujuan pembinaan setiap aspek itu.
3)      Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat, jasmani dan rohani manusia, keseimbangan itu tentulah bersifat relatif karena tidak dapat diukur secara objektif.
4)      Kurikulum Pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus, yaitu  ukir, pahat tulis indah (kaligrafi), gambar dan sejenisnya. Selain itu memperhatikan juga pendidikan jasmani, latihan fisik, militer, teknik, keterampilan dan bahasa asing, sekalipun semuanya ini diberikan kepada perseorangan secara efektif berdasarkan minat, bakat dan kebutuhan.
5)      Kurikulum Pendidikan Islam mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan zaman. Kurikulum hendaknya dirancang sesuai dengan kebudayaan itu.
Sistem Pendidikan Islam menuntut pengkajian kurikulum yang islami pula, yang tercermin dari sifat dan karakteristiknya. Kurikulum seperti ini hanya mungkin apabila bertopang dan mengacu pada dasar pemikiran yang islami pula, serta bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia (pandangan antropologis) serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah-kaidah islami. Abdurrahman An-Nahlawi (1992), mengatakan bahwa untuk memenuhi kriteria tersebut, suatu kurikulum yang islami perlu memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:
1)      Sistem dan perkembangan kurikulum tersebut hendaknya selaras dengan fitrah insani sehingga memiliki peluang untuk menyucikannya, menjaganya dari penyimpangan dan menyelamatkannya.
2)      Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yaitu ikhlas, taat dan beribadah kepada Allah.
3)      Penahapan dan pengkhususan kurikulum hendaknya memperhatikan periodisasi perkembangan peserta didik maupun unisitas (kekhasannya) seperti karakteristik perkembangan anak dalam berbagai tahapan perkembangannya (kewanitaan dan kepriaan). Begitu pula fungsi serta peranan dan tugas masing-masing dalam kehidupan sosial.
4)      Dalam berbagai pelaksanaan aktivitas, hendaknya kurikulum memelihara segala kebutuhan nyata dalam kehidupan masyarakat, sambil tetap bertopang pada jiwa dan cita ideal islaminya, serta struktur kurikulum itu memperhatikan setiap aspek kebudayaan, sepanjang tidak bertentangan dengan Islam, bahkan sebaliknya menunjang peningkatan umat dan perealisasian syariat dari keadilan Allah.
5)      Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum hendaknya tidak bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan, bahkan sebaliknya terarah kepada pola hidup Islam.
6)      Hendaknya kurikulum itu realistik, artinya dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi serta batas kemungkinan yang terdapat di negara yang akan melaksanakannya.
7)      Hendaknya metode pendidikan dan pengajaran dalam kurikulum itu bersifat luwes, sehingga dapat disesuaikan berbagai kondisi dan situasi.
8)      Hendaknya kurikulum itu efektif, artinya menyampaikan dan menggugah perangkat nilai edukatif yang membuahkan tingkah laku yang positif serta meninggalkan dampak sikap (afektif) yang positif pula dalam jiwa generasi muda.
9)      Kurikulum itu hendaknya memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik yang bersangkutan dan selalu diselaraskan dengan pola kehidupan islami.
10)  Hendaknya kurikulum memperhatikan aspek-aspek tingkah laku ‘amaliyah Islami, seperti pendidikan untuk berjihad, menyebarkan dakwah islamiyah, dan membangun masyarakat muslim di lingkungan sekolah. (An-Nahlawi, dalam Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 49)
Langkah-langkah strategi pengembangan kurikulum secara umum, menurut Muhammad Ali (1991, dalam Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 52) terdiri dari empat langkah, yaitu:
1)      Perumusan tujuan, dalam hal ini tujuan dirumuskan berdasarkan analisis terhadap berbagai kebutuhan, tuntutan dan harapan dengan tetap mempertimbangkan faktor masyarakat, peserta didik dan ilmu pengetahuan.
2)      Menentukan isi,  kurikulum, merupakan pengalaman belajar yang akan direncanakan dan diperoleh peserta didik selama mengikuti pendidikan.
3)      Memilih kegiatan (organisasi dan proses belajar mengajar), yang dirumuskan sesuai dengan tujuan dan pengalaman-pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum, dengan mempertimbangkan bentuk kurikulum yang digunakan.
4)      Evaluasi kurikulum, tetap mengacu kepada tujuan kurikulum dengan memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi. hal ini perlu dikatakan secara terus menerus untuk memperoleh balikan sebagai dasar dalam melakukan perbaikan.

Gambar. 2.2. Alur Pengembangan Kurikulum




Berikut penerapan rancang bangun sistem dalam strategi penyusunan pengembangan kurikulum menurut Muhammad Ali (1991, dalam Kaelani & Diding Nurdin, 2007: 53).

Gambar. 2.3. Rancang Bangun Sistem Dalam Strategi Penyusunan Pengembangan Kurikulum




Pada bagan di atas, garis (−−−)  menunjukkan arah alur kegiatan, sedangkan garis terputus-putus (− − −) menunjukkan arah balikan. Permulaan kegiatan dalam penyusunan kurikulum (pada level makro), adalah menganalisis kebutuhan, tuntutan dan harapan dari diselenggarakan pendidikan. Analisis kebutuhan ini dirumuskan tujuan. Pada level mikro, yaitu pengembangan kurikulum tinggal menjabarkan tujuan-tujuan itu ke dalam bentuk tujuan yang lebih operasional.
Berdasarkan tujuan yang dirumuskan, selanjutnya dilakukan analisis pengalaman belajar dan bagaimana pengalaman belajar diorganisasi. Dalam pengembangan kurikulum ini pun tinggal menjabarkan dari kurikulum resmi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, terutama yang menyangkut faktor kemasyarakatan. Tujuan kurikulum juga dijadikan dasar dalam merumuskan rencana evaluasi dan pelaksanaannya, serta analisis kegiatan belajar yang menyangkut metode dan alat. Sebagaimana terlihat dalam gambar, hasil evaluasi merupakan balikan (feed back) untuk meninjau kembali tujuan pengalaman belajar yang menjadi kurikulum, serta kegiatan belajar mengajar untuk kepentingan perbaikan.
Karena itu, dalam pengembangan kurikulum memerlukan pendekatan, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan sistem. Kajian tentang sistem ini, terkait dengan tiga komponennya, yaitu input, proses dan output. Penerapannya dalam penyusunan kurikulum, input adalah peserta didik sebelum mengikuti proses belajar, sedangkan output adalah peserta didik setelah mengalami proses belajar. Rancang bangun sistem ini, dalam strategi pengembangan kurikulum memetakan keseluruhan komponen kurikulum sebagai suatu sistem berdasarkan prinsip-prinsip  dalam analisis sistem.

Sumber
Kaelani dan Diding Nurdin. Manajemen Pendidikan Islam. Cirebon : LSM PPMP. 2007.

Thanks for reading & sharing Cendikia

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Selamat Datang di Blog Cendikia,

1. Silahkan isi komentar karena itu sangat berarti dalam perkembangan blog ini.
2. Jangan sungkan untuk bertanya di kolom komentar.
3. Kalau Anda mencari artikel atau data terperinci silahkan buka menu sitemap di kanan atas.
4. Jadilah Followers/pengikut blog ini untuk mendapatkan pemberitahuan secara langsung lewat email.


Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers