Home » , » Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam

Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam

Posted by Cendikia on Tuesday, July 3, 2018



Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik disebut dengan murabbi, mu’allim dan muaddib. Kata murabbi berasal dari kata rabbâ, yurabbî. Kata mu’allim isim fail dari ‘allama, yu’allimu sebagaimana ditemukan dalam Al-Qur`ân (QS. Al-Baqarah, 2: 31), sedangkan kata muaddib berasal dari kata addaba, yuaddibu. Ketiga term itu, mu’allim, murabbi, muaddib, mempunyai makna yang berbeda, sesuai dengan konteks kalimat, walaupun dalam situasi tertentu mempunyai kesamaan makna (Ramayulis, 2006: 56).
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!".  (QS. Al-Baqarah, 2: 31)

Kata atau istilah murabbi, sering dijumpai dari kalimat yang orientasinya lebih mengarah pada pemeliharaan, baik yang bersifat jasmani atau rohani. Pemeliharaan seperti ini terlihat dalam proses orang tua membesarkan anaknya. Mereka  tentunya berusaha memberikan pelayanan secara penuh agar anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat dan kepribadian serta Akhlâk yang terpuji. Sedangkan istilah mu’allim, pada umumnya dipakai dalam membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian atau pemindahan ilmu pengetahuan (baca: pengajaran), dari seorang yang tahu kepada orang yang tidak tahu. Adapun istilah muaddib, menurut al-Attas, lebih luas dari istilah mu’allim dan lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam. (Naquib Al-Attas, dalam Ramayulis, 2006: 57)
Secara terminologi, berikut ini disampaikan pemahaman beberapa ahli yang disajikan oleh Ramayulis (2006: 57), yaitu sebagai berikut:
1.      Muhammad Fadhil al-Jamali, menyebutkan bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.
2.      Marimba, mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul pertanggungjawaban sebagai pendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan peserta didik.
3.      Sutari Imam Barnadib, mengemukakah bahwa pendidik adalah setiap orang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan peserta didik.
4.      Zakiah Daradjat, berpendapat bahwa pendidik adalah individu yang akan memenuhi kebutuhan pengetahuan, sikap dan tingkah laku peserta didik.
5.      Ahmad Tafsir, mengatakan bahwa pendidik dalam Islam sama dengan teori di Barat, yaitu  siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik.
Menurut Ramayulis (2007: 59), pendidik dalam pendidikan Islam ada beberapa macam, yaitu:
1)      Allah SWT. Al-Razi mengatakan bahwa perbandingan antara Allah SWT sebagai pendidik dengan  manusia sebagai pendidik sangatlah berbeda.  Allah sebagai pendidik mengetahui segala kebutuhan orang yang dididiknya, sebab Dia adalah Zat Pencipta. Perhatian Allah tidak terbatas terhadap sekelompok manusia saja, tetapi memperhatikan dan mendidik seluruh alam.
2)      Nabi Muhammad saw. Beliau mengidentifikasikan dirinya sebagai mu’allim (pendidik). Nabi sebagai penerima wahyu Al-Qur`ân yang bertugas menyampaikan petunjuk-petunjuk kepada seluruh umat Islam kemudian dilanjutkan dengan mengajarkan kepada manusia ajaran-ajaran tersebut. Hal ini pada intinya menegaskan bahwa kedudukan Nabi saw sebagai pendidik ditunjuk langsung oleh Allah SWT.
3)      Orang tua. Pendidik dalam lingkungan keluarga adalah orang tua. Hal ini disebabkan karena secara alami anak-anak pada masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ayah dan ibunya. Dari merekalah anak mulai mengenal pendidikannya. Dasar pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup banyak tertanam sejak anak berada di tengah orang tuanya. Al-Qur`ân menyebutkan sifat-sifat yang dimiliki orang tua sebagai guru, yaitu memiliki kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio dapat bersyukur kepada Allah, suka menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, memerintahkan anaknya agar menjalankan perintah shalat, sabar dalam menghadapi penderitaan. Itulah sebabnya orang tua disebut sebagai pendidikan kodrati, yaitu pendidik yang telah diciptakan oleh Allah, qudrat-nya menjadi pendidik.

   12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barang siapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". 13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". 14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. 17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.  (QS. Lukman, 31: 12 – 19)

4)      Guru. Pendidik di lembaga pendidikan persekolahan disebut dengan guru yang meliputi guru madrasah atau sekolah sejak dari taman kanak-kanak, sekolah menengah, dan sampai dosen-dosen di perguruan tinggi, kiai di pondok pesantren, dan lain sebagainya. Namun guru bukan hanya menerima amanat  dari orang tua untuk mendidik, melainkan juga dari setiap orang yang memerlukan bantuan untuk mendidiknya. Sebagai pemegang amanat, guru bertanggung jawab atas amanat yang diserahkan kepadanya.
Tugas seorang pendidik disebabkan oleh tugas mulia yang diembannya. Tugas yang diemban seorang pendidik hampir sama dengan tugas seorang Rasul. Tugas pendidik secara umum, menurut Ramayulis (2006: 63), adalah sebagai warâsat al-anbiyâ, yang pada hakikatnya mengemban misi rahmat al-’alamin, yakni satu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Kemudian misi ini dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal saleh dan bermoral tinggi. Selain itu tugas pendidik yang utama adalah, menyempurnakan, membersihkan, menyucikan hati, manusia untuk ber-taqarrub kepada Allah. Sejalan dengan ini Abd al-Rahman al-Nahlawi menyebutkan tugas pendidik, yaitu: Pertama, adalah fungsi penyucian, yakni berfungsi sebagai pembersih, pemelihara, dan pengembang fitrah manusia. Dan kedua, fungsi pengajaran, yakni menginternalisasikan dan mentransformasikan pengetahuan dan nilai-nilai agama kepada manusia.
Tugas pendidik secara khusus menurut Ramayulis (2006: 63), adalah sebagai berikut:
1)      Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun dan penilaian setelah program itu dilaksanakan.
2)      Sebagai pendidik (edukator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insân kâmil, seiring dengan tujuan Allah menciptakan manusia.
3)      Sebagai pemimpin (manajerial), yang memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait. Menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas program yang dilakukan itu.

Sumber
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia. 2006.

Thanks for reading & sharing Cendikia

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Selamat Datang di Blog Cendikia,

1. Silahkan isi komentar karena itu sangat berarti dalam perkembangan blog ini.
2. Jangan sungkan untuk bertanya di kolom komentar.
3. Kalau Anda mencari artikel atau data terperinci silahkan buka menu sitemap di kanan atas.
4. Jadilah Followers/pengikut blog ini untuk mendapatkan pemberitahuan secara langsung lewat email.


Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers