Home » , » Sumber Pendidikan Islam

Sumber Pendidikan Islam

Posted by Cendikia on Monday, July 2, 2018




Said Ismail Ali (dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006: 31), mengatakan bahwa sumber pendidikan Islam terdiri atas enam macam, yaitu Al-Qur`ân, As-Sunah, Kata-kata sahabat (madzhab shahâbi), kemaslahatan umat (mashâlih  al-mursalah), tradisi atau adat kebiasaan masyarakat (‘Uruf), dan hasil pemikiran para ahli dalam Islam (ijtihad). Keenam sumber rujukan tersebut bersifat hierarkis, dimulai dari Al-Qur`ân kemudian ke sumber selanjutnya, sumber pertama lebih kuat kedudukannya daripada sumber di bawahnya.

a.      Al-Qur`ân
Menurut Ash-Shabuny (1984: 18), Al-Qur`ân adalah kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril as, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawwatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dengan surat al-Fâtihah dan di tutup dengan surat An-Nâs.
Allah menurunkan Al-Qur`ân adalah untuk menjadi undang-undang bagi umat manusia dan petunjuk, serta sebagai tanda atas kebenaran Rasul dan penjelasan atas kenabian dan kerasulannya, juga sebagai alasan (hujjah) yang kuat di hari kemudian di mana akan dinyatakan bahwa Al-Qur`ân itu benar-benar diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Terpuji. Nyatalah bahwa Al-Qur`ân adalah mu’jizat yang abadi, menundukkan semua generasi  dan bangsa sepanjang masa (Ash-Shabuny, 1984: 19).
Wahbah al-Zuhaili (dalam Abdul Mujib & Jusuf Mudzakkir, 2006: 36), menyatakan bahwa Al-Qur`ân memuat nilai normatif yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam, yaitu:
1)      I’tiqadiyah, yang berakitan dengan pendidikan keimanan, seperti percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir dan takdir. Kesemuanya bertujuan untuk menata kepercayaan individu.
2)      Khulûqiyah, yang berkaitan dengan pendidikan etika, bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji.
3)      ‘Amaliyyah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari, yang berhubungan dengan: Pertama, pendidikan ibadah, memuat hubungan antara manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan nazar, yang bertujuan untuk aktualisasi nilai-nilai ‘ubudiyah. Kedua, pendidikan muamalah, yang membuat hubungan antar manusia, baik secara individual maupun institusional. Bagian ini terdiri atas syakhshiyah (perkawinan dan hubungan keluarga), madaniyah (perdagangan), jana’iyah (pidana dan pelanggaran, bertujuan memelihara kelangsungan kehidupan manusia), murafa’at (peradilan, saksi, sumpah, penegakan keadilan), dusturiyah (undang-undang negara), duwaliyah (tata negara) dan Iqtishadiyah (perekonomian individu dan negara, pemerataan pendapatan masyarakat).

b.      As-Sunnah
Ada beberapa kata yang memiliki pengertian secara bahasa, merunut kepada as-Sunah, yaitu: pertama, Hadîts senada dengan tahdits, yang berarti, baru sebagai lawan qadim yang berarti terdahulu, maksudnya bahwa semua sabda Rasulullah saw dianggap sebagai sesuatu yang baru, sedangkan yang qadim adalah Al-Qur`ân. Kedua, ikhbar atau memberi tahu, ikhbar bisa merupakan perbuatan, ucapan, pengakuan Nabi atau yang lainnya, seperti sahabat dan tabiin. Maka, ulama menyatakan bahwa setiap Hadîts adalah khabar, tetapi tidak setiap khabar adalah Hadîts. Ketiga, As-sunah berarti tharîqah (jalan yang baik atau juga yang tidak baik). Jika Hadîts terbatas pada pengertian ikhbar, yaitu memberi tahu dalam bentuk ucapan, maka sunah secara khusus berbentuk perilaku Nabi saw. Keempat, atsar, lafal ini menurut sebagian ulama semakna dengan Hadîts, sunnah dan khabar, (M Abdurrahman & Elan Sumarna, 2013: 192).
Sunnah secara istilah memiliki perbedaan, bergantung kepada sudut pandang ahli, pertama, menurut ahli ushûl, sunnah diartikan segala perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi saw, khusus yang berhubungan dengan syariat, yang tidak berhubungan dengan hukum syariat tidak dapat dikatakan sunnah. Kedua, menurut pandangan fuqaha, setiap apa yang ditetapkan dari Nabi saw, yang tidak berkaitan dengan kewajiban. Ketiga, menurut pandangan ahli Hadîts, setiap yang disandarkan kepada Rasul saw, baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat fisik atau sirah-nya, baik yang datangnya sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, seperti tahannuts-nya di Gua Hira atau hal-hal yang berkaitan setelah diangkatnya menjadi Rasul (Muhammad Ajjaj Khatib, dalam M Abdurrahman & Elan Sumarna, 2013: 196).
Corak pendidikan Islam yang diturunkan dari Sunah Nabi Muhammad saw, menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir  (2006: 39), adalah sebagai berikut:
1)      Disampaikan sebagai rahmat li al-’alamin (rahmat bagi semua alam), yang ruang lingkupnya tidak sebatas spesies manusia, tetapi juga pada makhluk biotik dan abiotik lainnya

107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. 108. Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)"  (QS. Al-Anbiya, 21: 107-108)

2)      Disampaikan secara utuh dan lengkap, yang memuat berita gembira dan peringatan pada umatnya.
28. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’, 34: 28)

3)      Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak, dan terpelihara autentitasnya.

119. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka. (QS. Al-Baqarah, 2: 119)

9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.  (QS. Al-Hijr, 15: 9)

4)      Kehadirannya sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan senantiasa bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan.
48. Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (QS. Asy-Syura, 42: 48)

5)      Perilaku Nabi saw, tercermin sebagai uswah hasanah yang dapat dijadikan figur atau suri teladan, karena perilakunya dijaga oleh Allah SWT, sehingga beliau tidak pernah berbuat maksiat.
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab, 33: 21)


3. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`ân) menurut kemauan hawa nafsunya 4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm, 53: 3-4)

6)      Dalam masalah teknik operasional dalam pelaksanaan pendidikan Islam diserahkan penuh pada umatnya. Strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran diserahkan penuh pada ijtihad umatnya, selama hal itu tidak menyalahi aturan pokok dalam Islam. Sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas dan Aisyah;
أَنْتُمْ أَعْلَمْ بِأُمُرْ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)
Engkau lebih tahu terhadap urusan duniamu. (HR. Muslim)

c.       Kata-kata Shahabat
Shahabat menurut bahasa, jamak dari shahib yang berarti “yang empunya dan menyertai”. Menurut ‘uruf, kawan atau teman yang selalu berada bersama-sama kita. Jamak kata shahib adalah shabhun, ashab, dan shahabah (dengan tidak memanjangkan ha). (Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, 2009: 206). Menurut Muhammad Ibn ‘Alawi al-Maliki al-Husaiy (dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006: 40), Shahabat adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi saw, dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan beriman juga.
Orang yang bertemu dengan Nabi saw, namun dia belum memeluk agama Islam, tidak dipandang shahabat, karena orang itu masih dipandang musuh. Orang yang semasa dengan Nabi saw, dan beriman kepadanya tetapi tidak menjumpainya, seperti An-Najasi (Raja Habsy), atau menjumpai Nabi saw, setelah Nabi saw wafat, seperti Abu Dzuaib, juga tidak disebut shahabat. Orang yang murtad sesudah dijuluki shahabat, maka hilang ke-shahabatan-nya, kecuali dia kembali beriman. Seperti Abdullah Ibn Jahasy yang meninggal dalam kekafiran (Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, 2009: 206).
Para shahabat Nabi saw memiliki karakteristik yang unik dibanding kebanyakan orang. Fazlur Rahman berpendapat bahwa karakteristik shahabat Nabi saw antara lain: pertama, tradisi yang dilakukan para shahabat secara konsepsional tidak terpisah dengan sunnah Nabi saw. Kedua, kandungan yang khusus dan aktual tradisi shahabat sebagian besar produk sendiri. Ketiga, unsur kreatif dari kandungan merupakan ijtihad personal yang telah mengalami kristalisasi dalam ijma’, yang disebut dengan madzhab shahaby (pendapat shahabat). Ijtihad ini tidak terpisah dari petunjuk Nabi saw terhadap sesuatu yang bersifat spesifik; dan empat, praktek ‘amaliyah shahabat identik dengan ijma’ (konsensus umum) (Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006: 40).


d.      Kemaslahatan Umat
Mashâlih al-mursalah adalah menetapkan undang-undang peraturan dan hukum tentang pendidikan dalam hal-hal yang sama sekali tidak disebutkan di dalam nash, dengan pertimbangan kemaslahatan hidup bersama, dengan bersendikan asas menarik kemaslahatan dan menolak kejelekan. (Abdul Wahab Khallaf, dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006: 41).
Para ahli pendidikan berhak menentukan undang-undang atau peraturan pendidikan Islam sesuai dengan kondisi lingkungan di mana ia berada. Ketentuan yang dicetuskan berdasarkan mashâlih al-mursalah paling tidak memiliki tiga kriteria, yaitu, pertama, apa yang dicetuskan benar-benar membawa kemaslahatan dan menolak kerusakan setelah melalui tahapan observasi dan analisis, misalnya pembuatan tanda tamat (ijazah) dengan foto pemiliknya. Kedua, kemaslahatan yang diambil merupakan kemaslahatan yang bersifat universal, yang mencakup seluruh lapisan masyarakat, tanpa adanya diskriminasi. Misalnya, perumusan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di negara Islam atau di negara yang berpenduduk mayoritas muslim; ketiga, keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan nilai dasar Al-Qur`ân dan As-Sunah. Misalnya perumusan tujuan pendidikan tidak menyalahi fungsi kehambaan dan kekhalifahan manusia di muka bumi. (Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006: 41).
Selain dari sumber di atas, sumber pendidikan Islam juga dapat diperoleh dari adat kebiasaan masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam dan juga hasil ijtihad para ulama dengan mempertimbangkan sumber-sumber utama, yaitu Al-Qur`ân dan Al-Hadîts.
Sumber
Abdul Majid. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2007.
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media. 2006.
Ash-Shabuny, Mohammad Aly. Pengantar Studi Al-Quran At-Tibyan. Terj. Moch Chudlori Umar dan Moh Matsna H.S. Bandung : Al-Ma’arif. 1984.
M Abdurrahman dan Elan Sumarna. Metode Kritik Hadits. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2013.
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits.Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra. 2009.


Thanks for reading & sharing Cendikia

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Selamat Datang di Blog Cendikia,

1. Silahkan isi komentar karena itu sangat berarti dalam perkembangan blog ini.
2. Jangan sungkan untuk bertanya di kolom komentar.
3. Kalau Anda mencari artikel atau data terperinci silahkan buka menu sitemap di kanan atas.
4. Jadilah Followers/pengikut blog ini untuk mendapatkan pemberitahuan secara langsung lewat email.


Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers